Konser Amal Musik Klasik Satukan Harmoni Seni dan Kepedulian Sosial di Kota Cantik
MMCKalteng – Palangka Raya - Alunan piano dan biola memenuhi ruang ballroom Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya, Senin (20/7/2026) malam. Setiap nada yang dimainkan tidak hanya menghadirkan keindahan musik klasik bertaraf internasional, tetapi juga membawa pesan kemanusiaan. Melalui kolaborasi JakArt, Susila Dharma Indonesia, dan Pemerintah Kota Palangka Raya, Konser Amal Musik Klasik digelar dalam rangka Hari Jadi ke-61 Pemerintah Kota Palangka Raya, Hari Jadi ke-69 Kota Palangka Raya, serta HUT ke-25 Muhammad Subuh Centre (MSC) Tahun 2026.
Konser yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri Fairid Naparin, Adiah Chandra Sari, unsur Forkopimda, kepala perangkat daerah, pimpinan BUMN dan perbankan, tokoh masyarakat, komunitas seni, hingga para pecinta musik klasik. Malam itu menjadi ruang pertemuan antara seni, budaya, dan kepedulian sosial yang berpadu dalam satu semangat, yakni membantu sesama melalui program bedah rumah bagi masyarakat yang membutuhkan.
Baca juga : Gali Prestasi Bidang Seni Budaya dan Olah Raga Melalui PSBOMengusung tema Hantep Hapakat, yang mencerminkan nilai gotong royong dan kebersamaan masyarakat Dayak Kalimantan Tengah, konser amal ini menjadi bukti bahwa musik mampu menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai kalangan. Tidak hanya menikmati suguhan karya-karya klasik dunia, para tamu juga diajak berpartisipasi dalam aksi nyata melalui donasi dan lelang amal yang hasilnya didedikasikan untuk mendukung pembangunan rumah layak huni.
Ketua Panitia, Maulita Mustafa, menyampaikan bahwa rumah merupakan fondasi utama bagi tumbuh kembang sebuah keluarga. Menurutnya, tempat tinggal yang aman dan nyaman akan memberikan ruang terbaik bagi anak-anak untuk belajar dan berkembang.
Ia juga mengapresiasi seluruh musisi, Pemerintah Kota Palangka Raya, sponsor, donatur, dan semua pihak yang telah bergandengan tangan mewujudkan konser amal tersebut. "Bantuan sekecil apa pun memiliki arti besar bagi masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.
Sementara itu, Fairid Naparin mengatakan konser amal menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Jadi ke-69 Kota Palangka Raya yang sebelumnya telah diisi berbagai kegiatan, mulai dari penanaman 6.900 pohon, Festival Budaya Nusantara, hingga Palangka Raya Fair.
Menurutnya, dana yang berhasil dihimpun akan difokuskan untuk program bedah rumah bagi 10 keluarga di Kota Palangka Raya. Setiap rumah diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp60 juta sehingga target donasi yang ingin dicapai mencapai Rp600 juta.
"Melalui kolaborasi ini, kami berharap kepedulian masyarakat terus tumbuh sehingga target pembangunan rumah layak huni dapat tercapai dan memberikan manfaat nyata bagi warga," ungkapnya.
Di balik kemegahan pertunjukan, konser ini juga menjadi bagian dari perjalanan panjang program Memeluk Indonesia yang digagas pianis Ary Sutedja. Ia mengungkapkan bahwa Palangka Raya merupakan kota ke-55 yang dikunjungi sekaligus konser ke-88 dalam rangkaian tur nasional tersebut.
Menurut Ary, setiap konser yang digelar bukan hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga membawa misi sosial. Di Palangka Raya, semangat filantropi diwujudkan melalui dukungan terhadap program bedah rumah sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
"Semoga musik kami menginspirasi dan menjadikan Kota Palangka Raya bagian dari kota dunia. Musik klasik juga harus hadir sebagai bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu kami datang membawa semangat filantropi, menjadi sahabat bagi sesama manusia yang membutuhkan," tuturnya.
Ary juga menegaskan bahwa seluruh pertunjukan dalam program Memeluk Indonesia diselenggarakan secara gratis. Langkah tersebut dilakukan untuk menghapus stigma bahwa musik klasik hanya dapat dinikmati kalangan tertentu.
"Kami ingin mematahkan anggapan bahwa musik klasik hanya milik kalangan tertentu. Justru kami yang datang menemui masyarakat agar akses terhadap seni berkualitas dapat dinikmati semua kalangan," jelasnya.
Ia menambahkan, musik klasik merupakan warisan budaya dunia yang telah bertahan selama ratusan tahun dan hingga kini tetap hidup di berbagai belahan dunia. Baginya, kehadiran musik klasik di Palangka Raya menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap seni sekaligus memperkaya kehidupan budaya daerah.
Nuansa internasional semakin terasa melalui kolaborasi bersama musisi asal Korea Selatan Seung Yong Choi, yang tampil membawakan karya-karya klasik bersama Ary Sutedja. Penampilan mereka dipadukan dengan pertunjukan Tris Sofia Wartina dan penyanyi sopran asal Palangka Raya Gabriella Sabatini, yang memukau hadirin melalui sajian Salut d Amour karya Edward Elgar dan Melati Suci karya Guruh Soekarnoputra. Sebagai bentuk penghormatan, panitia turut menyerahkan busana adat Dayak Sangkirai kepada para musisi internasional sebagai simbol persahabatan budaya.
Menjelang akhir acara, semangat berbagi kembali diwujudkan melalui lelang amal berbagai kerajinan khas Kalimantan Tengah. Setiap karya yang dilelang bukan sekadar produk budaya, melainkan simbol kepedulian bersama untuk membantu mewujudkan rumah yang lebih layak bagi masyarakat yang membutuhkan. Penyerahan buket bunga kepada para penampil kemudian menjadi penutup rangkaian konser sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka, sebelum seluruh tamu dan panitia mengabadikan momen kebersamaan melalui sesi foto bersama. Harmoni musik yang menggema sepanjang malam pun meninggalkan pesan bahwa seni tidak hanya mampu menghibur, tetapi juga menjadi jembatan kepedulian, gotong royong, dan harapan bagi sesama. (TRA/Foto:Tra)
TIM NEWS