BPS Kalteng Rilis BRS 2026, Inflasi Dipengaruhi Harga Pangan dan Emas
MMCKalteng – Palangka Raya – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah merilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang disampaikan secara langsung dari Ruang Vicon BPS Kalteng dan disiarkan melalui kanal YouTube resmi BPS, Senin (2/2/2026).
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Kalimantan Tengah M. Taufiqurrahman, dalam paparannya menyampaikan tujuh indikator utama, meliputi Indeks Harga Konsumen Januari 2026, Nilai Tukar Petani Januari 2026, Perdagangan Luar Negeri Desember 2025, Jasa Akomodasi Desember 2025, Jasa Transportasi Desember 2025, Luas Panen dan Produksi Padi 2025, serta Luas Panen dan Produksi Jagung 2025.
Baca juga : Era Teknologi, Tenaga Pengajar Perlu Awasi Perilaku Peserta DidikIa menjelaskan, pada Januari 2026 Provinsi Kalimantan Tengah mengalami inflasi sebesar 0,38 persen secara month-to-month (m-to-m). Inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,30 persen.
“Komoditas utama penyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, ikan gabus, ikan nila, dan beras. Sementara penurunan harga bawang merah dan cabai rawit menjadi faktor yang menahan laju inflasi,” ujar Taufiqurrahman.
Secara year-on-year (y-on-y), inflasi Kalimantan Tengah tercatat sebesar 4,09 persen, dengan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebagai penyumbang terbesar. Kenaikan tarif listrik serta harga emas perhiasan menjadi faktor dominan inflasi tahunan.
Dari sisi kesejahteraan petani, Nilai Tukar Petani (NTP) Kalimantan Tengah pada Januari 2026 tercatat sebesar 134,67, atau meningkat 0,06 persen dibandingkan Desember 2025.
“Kenaikan NTP didorong oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani, terutama dari komoditas gabah, karet, dan ayam ras pedaging,” jelasnya.
Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) tercatat sebesar 140,39, atau naik 0,34 persen secara bulanan.
Pada sektor perdagangan luar negeri, nilai ekspor Kalimantan Tengah periode Januari–Desember 2025 tercatat sebesar USD 3,54 miliar, atau turun 12,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor masih didominasi oleh batu bara dan minyak kelapa sawit, dengan tujuan utama Jepang, India, dan Tiongkok.
Di sisi lain, nilai impor tercatat sebesar USD 37,70 juta, turun 35,42 persen secara kumulatif tahunan, sehingga neraca perdagangan Kalimantan Tengah tetap mencatat surplus.
Pada sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kalimantan Tengah pada Desember 2025 mencapai 57,64 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Jumlah tamu hotel berbintang tercatat sebanyak 58.537 orang, yang didominasi wisatawan domestik, dengan rata-rata lama menginap 1,34 malam.
Aktivitas transportasi juga menunjukkan peningkatan. Pada Desember 2025, frekuensi penerbangan tercatat sebanyak 1.400 penerbangan, dengan jumlah penumpang berangkat mencapai 72.260 orang. Sementara itu, frekuensi kunjungan kapal laut mencapai 904 unit, disertai peningkatan aktivitas bongkar muat barang di pelabuhan utama.
Sementara pada sektor pertanian, luas panen padi sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat mengalami penurunan 12,49 persen dibandingkan tahun 2024. Produksi padi juga turun 8,94 persen, terutama akibat berkurangnya luas panen pada Subround III (September–Desember 2025).
“Namun, untuk awal tahun 2026, potensi luas panen padi pada periode Januari–Maret diperkirakan mulai meningkat berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA),” pungkas Taufiqurrahman. (IAQ/Foto: EJ)