Pemprov Kalteng Intensifkan Penanganan Karhutla, 10.700 Personel Gabungan Disiagakan
MMCKalteng - Palangka Raya – Sebanyak 10.700 personel gabungan disiagakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah untuk memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah. Kekuatan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, serta berbagai pihak terkait. Kesiapsiagaan di darat juga diperkuat dukungan operasi udara berupa enam unit helikopter dan satu unit pesawat OMC/patroli.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menghadapi peningkatan aktivitas karhutla memasuki musim kemarau. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Tengah yang diperbarui Senin (7/9/2026) pukul 18.00 WIB, tercatat 1.727 titik hotspot dalam perkembangan harian.
Baca juga : Pj. Sekda H. Nuryakin Buka Rapat Koordinasi Bidang Organisasi dan Kepegawaian Se-Kalteng Tahun 2022Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyampaikan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan harus terus diperkuat agar potensi kebakaran dapat segera dikendalikan serta dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
“Karhutla merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan seluruh pihak agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani. Yang paling utama adalah melindungi masyarakat dan menjaga lingkungan Kalteng tetap aman dari dampak kabut asap,” ujar Agustiar Sabran.
Gubernur juga menekankan pentingnya peran seluruh pihak dalam melakukan pencegahan, termasuk meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya titik api serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota kepada Pusdalops PB Provinsi Kalimantan Tengah, hingga periode tersebut tercatat sebanyak 47 kejadian karhutla dengan estimasi luas area terbakar mencapai 100,44 hektare.
Sebaran hotspot harian menunjukkan Kabupaten Katingan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni sebanyak 338 hotspot. Kemudian disusul Kabupaten Pulang Pisau sebanyak 299 hotspot, Seruyan 297 hotspot, Kotawaringin Timur 271 hotspot, dan Kota Palangka Raya sebanyak 155 hotspot.
Sementara berdasarkan luas area terbakar harian, Kabupaten Kapuas mencatat luasan tertinggi mencapai 46 hektare, diikuti Seruyan 12,5 hektare, Gunung Mas 10,52 hektare, Kotawaringin Timur 10 hektare, serta Kotawaringin Barat 9,25 hektare. Kabupaten Kapuas juga mencatat jumlah kejadian karhutla harian terbanyak dengan sembilan kejadian, disusul Seruyan dan Kota Palangka Raya masing-masing tujuh kejadian.
Secara kumulatif sejak 1 Januari hingga 7 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat sebanyak 104.140 hotspot di wilayah Kalimantan Tengah. Dalam periode tersebut terdapat 2.698 kejadian karhutla dengan luas area terbakar berdasarkan laporan lapangan mencapai 8.139,12 hektare. Sementara berdasarkan perhitungan citra satelit Landsat 8 OLI/TIRS, luas area terindikasi terbakar mencapai 7.634 hektare.
Berdasarkan sebaran kumulatif, hotspot terbanyak tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 20.570 titik, disusul Kapuas 18.135 titik, Kota Palangka Raya 15.143 titik, Pulang Pisau 11.542 titik, dan Katingan 9.315 titik. Dari sisi jumlah kejadian, Kota Palangka Raya mencatat angka tertinggi dengan 569 kejadian, kemudian Kotawaringin Timur 519 kejadian, Seruyan 306 kejadian, Kapuas 214 kejadian, dan Kotawaringin Barat 207 kejadian.
Sementara itu, luas karhutla kumulatif terbesar tercatat di Kabupaten Kotawaringin Timur sebesar 2.423,24 hektare, disusul Kotawaringin Barat 1.082,74 hektare, Seruyan 1.028,64 hektare, Kapuas 646,89 hektare, serta Kota Palangka Raya 534,53 hektare.
Memasuki musim kemarau, aktivitas karhutla mengalami peningkatan signifikan pada Agustus 2026. Pada periode tersebut tercatat sebanyak 71.350 hotspot, 1.444 kejadian karhutla, dengan luas area terbakar sekitar 4.898,06 hektare. Sedangkan hingga 7 September 2026, bulan September telah mencatat 27.457 hotspot, 413 kejadian, dan luas area terbakar sekitar 1.551,29 hektare.
Selain memperkuat operasi pemadaman dan pencegahan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga melakukan langkah penegakan hukum terhadap pelanggaran terkait karhutla. Hingga 7 September 2026, tercatat 32 penanganan penegakan hukum telah dilakukan.
Dampak karhutla dan kabut asap terhadap kesehatan masyarakat juga menjadi perhatian pemerintah. Berdasarkan data yang dihimpun, tercatat 79.081 orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) secara kumulatif, dengan 6.734 orang tercatat pada Minggu IV Agustus 2026.
Sebagai langkah mitigasi, pemerintah menyiapkan 150 lokasi Rumah Oksigen serta mendukung penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada sembilan kabupaten/kota sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kembali mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi munculnya titik api, terutama di kawasan lahan gambut dan wilayah yang rawan terbakar.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kejadian kebakaran agar dapat ditangani secara cepat dan tepat. Kolaborasi pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam menekan risiko karhutla sekaligus melindungi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Melalui sinergi seluruh pihak, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus memperkuat komitmen mewujudkan semangat “Bersama Wujudkan Kalteng Bebas Kabut Asap Tahun 2026.”
Sumber data: BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, BRIN, SIPONGI Kementerian Kehutanan, laporan lapangan kabupaten/kota, dan Pusdalops PB Provinsi Kalimantan Tengah. (TRA/Foto: Ist)
TIM NEWS