Kalteng Catat Karhutla Terendah, Gubernur Agustiar Sabran Tegaskan Kesiapsiagaan dan Penanganan
MMCKalteng - Palangka Raya — Luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah pada 2026 tercatat mengalami penurunan signifikan. Berdasarkan data SIPONGI dan Kementerian Kehutanan periode Januari hingga 1 Agustus 2026, luas areal karhutla mencapai 7.634,46 hektare. Angka ini menjadi yang terendah dalam rangkaian data karhutla Kalimantan Tengah sejak 1997, sekaligus menunjukkan tren positif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Sebagai informasi, data 2026 tersebut merupakan akumulasi periode Januari hingga 1 Agustus 2026 sehingga belum mencakup keseluruhan tahun. Meski demikian, capaian sementara ini menunjukkan perkembangan positif jika dibandingkan dengan catatan historis karhutla di Kalimantan Tengah.
Baca juga : APIP Jadi Mata dan Telinga PimpinanBerdasarkan catatan historis, luas karhutla pada 1997 mencapai sekitar 2.000.000 hektare dan menjadi angka tertinggi dalam rangkaian data. Kondisi tersebut terjadi ketika Kalimantan Tengah menghadapi El Niño yang sangat kuat. Selanjutnya, luas karhutla tercatat 295.202 hektare pada 2002 dan meningkat menjadi 1.722.030 hektare pada 2006 saat terjadi El Niño.
Luas karhutla kemudian menurun menjadi 247.942 hektare pada 2009 dan 183.264 hektare pada 2012. Namun, pada 2015 angka tersebut kembali meningkat menjadi 583.833,44 hektare dalam kondisi El Niño sangat kuat, sebelum turun menjadi 317.749 hektare pada 2019 dan 165.896,44 hektare pada 2023.
Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, capaian 2026 menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Luas karhutla 2026 hanya sekitar 0,38 persen dibandingkan 1997, atau turun sekitar 99,62 persen. Dibandingkan 2006, penurunannya mencapai sekitar 99,56 persen, sedangkan dibandingkan 2015 mencapai sekitar 98,69 persen.
Capaian tersebut menjadi semakin penting karena 2026 tercatat berada dalam kondisi El Niño kuat, yang merupakan salah satu faktor iklim yang dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Data historis juga menunjukkan keterkaitan antara kondisi El Niño dengan meningkatnya luas karhutla pada sejumlah tahun sebelumnya.
Penurunan luas karhutla di tengah kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran menunjukkan capaian positif dalam pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah. Kondisi ini menjadi indikator bahwa upaya pencegahan, pemantauan, kesiapsiagaan, serta penanganan karhutla terus memberikan hasil yang positif.
Meski demikian, kewaspadaan tetap harus dipertahankan. Kondisi cuaca dan iklim, khususnya pada musim kemarau, masih dapat meningkatkan potensi kebakaran. Karena itu, penguatan pencegahan dan respons cepat terhadap setiap potensi karhutla tetap menjadi prioritas seluruh pihak.
Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat diharapkan terus meningkatkan koordinasi, pemantauan wilayah rawan, pencegahan pembukaan lahan dengan cara membakar, serta memperkuat respons cepat terhadap setiap potensi kebakaran hutan dan lahan.
Upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Tengah juga mendapat perhatian langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, Presiden meninjau penanganan karhutla di Kalimantan Tengah sekaligus memimpin rapat koordinasi bersama Gubernur Kalimantan Tengah, unsur Forkopimda, dan seluruh pemangku kepentingan terkait di Posko Aju Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menegaskan pentingnya pemantauan situasi secara berkelanjutan serta penguatan langkah mitigasi dan dukungan sarana prasarana penanganan karhutla. Presiden menyampaikan bahwa kebutuhan penanganan di lapangan akan terus dipenuhi, termasuk penambahan helikopter, peralatan, serta mesin bor untuk mendukung ketersediaan sumber air.
Arahan Presiden tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan percepatan dukungan penanganan karhutla di Kalimantan Tengah. Pada Minggu, 23 Agustus 2026, atau sehari setelah kunjungan Presiden, bantuan dan peralatan tahap I mulai tiba di Kalimantan Tengah untuk mendukung penanganan karhutla.
Sesuai arahan Presiden, Kodam XXII/Tambun Bungai juga bergerak cepat melakukan survei lokasi pembangunan sumur bor sebagai bagian dari penguatan dukungan sumber air dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, pemangku kepentingan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga capaian pengendalian karhutla.
Dengan luas karhutla yang hingga 1 Agustus 2026 tercatat 7.634,46 hektare, Kalimantan Tengah mencatat angka terendah sejak 1997. Capaian ini diharapkan dapat terus dipertahankan melalui penguatan pencegahan, kesiapsiagaan, koordinasi, dan respons cepat di lapangan, sehingga Kalimantan Tengah semakin hijau, bebas asap, serta terlindungi dari dampak kebakaran hutan dan lahan. (Dw)
Dewi Rosmeity